Solusi & Tips Praktis

Downtime Mesin Adalah: Pengertian, Penyebab & Cara Mengurangi

Downtime Mesin Adalah: Pengertian, Penyebab & Cara Mengurangi

Downtime Mesin Adalah: 7 Penyebab & Cara Mengurangi 70% (Bukan Cuma "Pantau Lebih Ketat")

 

"Mesin stop 10 menit doang, tidak masalah lah..."
Pernah mendengar kalimat ini di lantai produksi? Hati-hati.
Mari kita berhitung sejenak. Jika stop 10 menit itu terjadi 12 kali sehari, maka: 12 kali x 250 hari kerja = 30.000 menit per tahun = 500 Jam Hilang.
Jika nilai produksi pabrik Anda Rp 5 Juta per jam, artinya Rp 2,5 Miliar melayang setiap tahun.

Hanya dari "cuma 10 menit".

Artikel ini akan membongkar tuntas apa itu downtime mesin, 7 penyebab utama (dan mana yang paling sering lolos dari pantauan), cara menghitung kerugian riilnya, serta solusi konkret mengurangi downtime hingga 70% dalam 3 bulan.

Baca Juga: Standardisasi Produktivitas Shift Pabrik: Atasi Gap Output Pagi vs Sore


Pengertian Downtime Mesin

Downtime mesin adalah periode waktu ketika mesin atau peralatan pabrik seharusnya beroperasi (planned production time) tetapi tidak menghasilkan output karena kerusakan, berhenti, atau menunggu material.

Rumus sederhananya:

Downtime = Waktu Produksi yang Hilang = Uang yang Hilang

Contoh Sederhana:

  • Jadwal Produksi: 8 Jam (480 menit).
  • Istirahat Terjadwal: 60 menit.
  • Waktu Tersedia (Available Time): 420 menit.
  • Actual Running Time: 350 menit.
  • Downtime: 70 menit (16,7% waktu terbuang).

Siapa yang paling terdampak? Semua industri yang bergantung pada mesin otomatis (Manufaktur, F&B, Tekstil, Otomotif, Farmasi) wajib mengelola angka ini.


2 Jenis Downtime: Terencana vs Tidak Terencana

Tidak semua downtime itu buruk. Kita perlu membedakannya:

1. Planned Downtime (Terencana) ✅

Ini adalah waktu henti yang dijadwalkan dan terkendali.

  • Contoh: Preventive Maintenance rutin, pergantian shift, pembersihan mesin, atau changeover produk.
  • Sifat: Dapat diprediksi dan diperlukan untuk menjaga keawetan mesin.

2. Unplanned Downtime (Tidak Terencana) ❌

Ini adalah musuh sebenarnya. Waktu henti yang mendadak dan mengganggu.

  • Contoh: Mesin jebol (breakdown), mati listrik, kehabisan bahan baku, atau operator tidak hadir.
  • Sifat: Mahal (biaya perbaikan darurat biasanya 3x lipat) dan mengacaukan jadwal pengiriman ke customer.

7 Penyebab Utama Downtime Mesin (Diurutkan dari Dampak Terbesar)

Secara umum, berikut adalah 7 penyebab utama downtime yang paling sering terjadi di lantai produksi:

1. Equipment Failure / Breakdown (35-40%)

Mesin rusak total tiba-tiba. Penyebabnya bisa karena part yang aus (bearing, belt putus) atau kurang perawatan rutin. Ini memakan waktu perbaikan paling lama (2-4 jam per insiden).

2. Changeover / Setup Time (20-25%)

Waktu yang habis untuk mengganti setting mesin dari Produk A ke Produk B. Di pabrik dengan variasi produk tinggi, ini bisa memakan 4-10 jam per minggu.

3. Micro-Stops (10-15%) - The Hidden Killer⚠️

Mesin berhenti sebentar (5-30 detik) tapi berkali-kali. Contoh: Sensor kotor, barang macet di conveyor. Bahayanya: Seringkali tidak dicatat oleh operator karena dianggap sepele. Padahal akumulasinya bisa memangkas 15% produktivitas harian!

4. Material Shortage (8-12%)

Produksi berhenti karena bahan baku habis di lini produksi. Ini masalah perencanaan (planning) atau keterlambatan supplier.

5. Quality Issue (5-8%)

Defect rate tinggi memaksa mesin dihentikan untuk investigasi akar masalah atau setting ulang parameter.

6. Menunggu Operator / Teknisi (5-8%)

Mesin menganggur (idle) karena operator sedang mengurus mesin lain, atau menunggu teknisi datang memperbaiki.

7. Masalah Utilitas (3-5%)

Faktor eksternal seperti mati listrik, tekanan angin kompresor turun, atau masalah air pendingin.

 

Baca Juga: Manajemen Produksi Manufaktur: Pengertian, Fungsi & Panduan


Cara Menghitung Kerugian Downtime (Downtime Cost)

Jangan hanya menghitung jam, hitunglah Rupiah-nya agar manajemen sadar.

Rumus:

Biaya Downtime = Durasi Downtime (Jam) × Nilai Produksi per Jam

Studi Kasus:

  • Kapasitas Output: 100 unit/jam.
  • Harga Jual: Rp 50.000/unit.
  • Nilai Produksi: Rp 5.000.000 per jam.

Jika total downtime sebulan adalah 66 jam, maka: 66 jam × Rp 5 Juta = Rp 330 Juta Hilang per Bulan. Dalam setahun? Rp 3,96 Miliar.

Ini belum termasuk biaya lembur untuk mengejar target dan denda keterlambatan dari klien.


3 Level Solusi Mengurangi Downtime

Bagaimana cara menguranginya? Jangan cuma bilang "Pantau lebih ketat". Gunakan sistem.

Level 1: Manual Tracking (Rp 0 - Mulai Hari Ini)

Buat Log Sheet Downtime di kertas/Excel. Wajibkan operator mencatat: Jam Stop, Durasi, dan Penyebab.

  • Kelebihan: Gratis.
  • Kekurangan: Data sering tidak akurat, micro-stops pasti terlewat, dan rekap data telat.

Level 2: Digital Monitoring (Rp 15-50 Juta)

Pasang sensor IoT sederhana di mesin yang terhubung ke Andon System atau dashboard monitoring.

  • Kelebihan: Otomatis mendeteksi saat mesin mati (bahkan cuma 10 detik), notifikasi real-time ke HP Supervisor, data 100% akurat.
  • Hasil: Klien Leapfactor rata-rata mengurangi downtime hingga 50-70% karena respons perbaikan jadi lebih cepat.

Level 3: Predictive Maintenance (Rp 80 Juta++)

Gunakan sensor canggih (getaran/suhu) dan AI untuk memprediksi kerusakan.

  • Kelebihan: Mesin memberi tahu "Saya akan rusak dalam 3 hari" sehingga Anda bisa servissebelum kejadian. Cocok untuk mesin bernilai tinggi.

Baca Juga: Biaya Tersembunyi di Pabrik: Pengertian, 7 Contoh, dan Solusinya


Kesimpulan: Jangan "Terima Nasib"

Downtime bukanlah takdir pabrik. Itu adalah inefisiensi yang bisa diselesaikan.

Jika biaya downtime Anda mencapai Rp 4 Miliar setahun, dan solusi digital monitoring hanya butuh investasi Rp 40-50 Juta untuk menyelesaikannya...

Maka modal Anda akan kembali (Break Even Point) hanya dalam waktu 5-6 hari kerja.

Masih mau bertahan dengan cara manual?


Mulai Kurangi Downtime Hari Ini

Lihat bagaimana sensor Leapfactor mendeteksi micro-stops yang selama ini membuang uang Anda. [Lihat Demo Gratis]

Artikel yang mungkin Anda suka

Whatsapp Us