Solusi & Tips Praktis

Inventory Turnover: Cara Menghitung & Meningkatkan + Benchmark Industri

Inventory Turnover: Cara Menghitung & Meningkatkan + Benchmark Industri

Inventory Turnover: Cara Menghitung & Meningkatkan (Stok Menumpuk = Rp 500 Juta Uang Mati!)

 

"Gudang penuh, aset besar!"

Banyak pemilik bisnis bangga melihat gudangnya penuh. Padahal, bagi seorang CFO atau Manajer Keuangan, gudang penuh bisa jadi tanda bahaya.

Mengapa? Karena Inventory = Uang Tunai yang Membeku.

Mari kita berhitung sederhana:

  • Skenario A (Turnover Lambat): Stok Anda berputar 2x setahun. Rata-rata nilai stok di gudang Rp 500 Juta.
  • Skenario B (Turnover Cepat): Stok berputar 6x setahun. Untuk omzet yang sama, Anda cukup menyimpan stok senilai Rp 167 Juta.

Selisihnya: Rp 500 Juta - Rp 167 Juta = Rp 333 Juta.

Uang Rp 333 Juta itu bisa Anda pakai untuk beli mesin baru, marketing, atau bayar utang. Tapi di Skenario A, uang itu hanya "duduk manis" di gudang berdebu.

Inventory Turnover: Cara Menghitung & Meningkatkan + Benchmark Industri - 17706219410.webp

Artikel ini akan membahas Inventory Turnover dari sudut pandang finansial: Cara menghitung, standar benchmark industri, dan strategi mengubah stok menjadi cash flow.

Baca Juga: Stock Opname: Cara Selesai dalam 4 Jam (Bukan 3 Hari)


Apa Itu Inventory Turnover?

Inventory Turnover (Perputaran Persediaan)

adalah rasio yang menunjukkan berapa kali stok barang Anda terjual habis dan diganti baru dalam satu periode (biasanya setahun).

Semakin tinggi angkanya, semakin efisien Anda mengelola modal kerja. Semakin rendah, semakin banyak uang Anda yang "nyangkut" di barang.

Rumus Inventory Turnover:

Inventory Turnover: Cara Menghitung & Meningkatkan + Benchmark Industri - 17706219411.webp

Catatan: Gunakan HPP (COGS), bukan harga jual (Omzet), agar perbandingannya apple-to-apple dengan nilai stok.

Contoh Perhitungan:

  • HPP Setahun: Rp 2,4 Miliar.
  • Stok Awal Tahun: Rp 350 Juta.
  • Stok Akhir Tahun: Rp 450 Juta.
  • Rata-rata Stok: (350+450)/2 = Rp 400 Juta.

Turnover Ratio: 2,4 Miliar / 400 Juta = 6 kali per tahun.

Artinya, stok Anda habis dan diganti baru setiap 2 bulan sekali.


Benchmark: Berapa Angka Turnover yang Bagus?

"Apakah 6 kali itu bagus?" Jawabannya tergantung industri Anda. Jangan bandingkan pabrik makanan dengan pabrik mesin.

Berikut panduan umum benchmark industri:

Inventory Turnover: Cara Menghitung & Meningkatkan + Benchmark Industri - 17706219412.webp

Jika bisnis Anda di bidang F&B tapi turnover-nya cuma 4x, artinya Anda punya masalah besar: Barang kedaluwarsa menumpuk.

Baca Juga: Gudang Penuh, Cash Flow Seret? Cara Identifikasi & Atasi Dead Stock


7 Cara Meningkatkan Inventory Turnover (Release Cash Flow!)

Bagaimana cara menaikkan angka turnover dari 4x menjadi 6x (dan mencairkan uang ratusan juta)?

  1. Analisis ABC (Prioritas Stok): Fokuskan perhatian pada item Kategori A (Barang mahal & laku keras). Jangan buang waktu mengurus stok baut murah (Kategori C).
  2. Forecast Lebih Akurat: Jangan beli barang pakai feeling. Gunakan data historis penjualan tahun lalu untuk memprediksi order bulan depan.
  3. Diskon "Dead Stock": Barang yang tidak bergerak >6 bulan adalah beban. Jual rugi (diskon 50%) lebih baik daripada membiarkannya jadi sampah di gudang. Uangnya bisa diputar untuk beli barang laku.
  4. Kurangi Lead Time Supplier: Negosiasi dengan supplier agar kirim lebih cepat. Jika kiriman cepat, Anda tidak perlu simpan stok pengaman (Safety Stock) terlalu banyak.
  5. Terapkan JIT (Just-In-Time): Untuk bahan baku mahal, usahakan barang datang tepat saat mau diproduksi.
  6. Konsinyasi: Minta supplier titip barang di gudang Anda. Anda baru bayar saat barang terpakai. Stok di gudang ada, tapi nilai aset Anda Rp 0 (Sangat bagus untuk Cash Flow).
  7. Gunakan Sistem Digital (WMS/ERP): Mustahil mengelola turnover cepat jika Anda masih pakai Excel dan baru tahu stok habis setelah dicek fisik akhir bulan.

Simulasi Keuntungan Finansial (Skenario Riil)

Mari kita lihat dampak finansial dari perbaikan sistem inventory.

Contoh: Perusahaan Distributor Elektronik dengan Omzet HPP Rp 3 Miliar.

Kondisi Awal (Manual/Excel):

  • Turnover: 3x setahun.
  • Rata-rata Stok tertahan: Rp 1 Miliar.

Setelah Perbaikan Sistem (Digital ERP):

  • Turnover naik jadi: 5x setahun.
  • Rata-rata Stok dibutuhkan: Rp 600 Juta.

Hasilnya?

Uang tunai sebesar Rp 400 Juta yang tadinya "mati" di gudang, sekarang CAIR dan bisa masuk kembali ke rekening bank perusahaan.

Ditambah lagi, Anda menghemat biaya gudang, asuransi, dan risiko barang rusak senilai ~20% dari nilai stok (Hemat Rp 80 Juta/tahun).


Kesimpulan: Manual vs Digital

Mengelola inventory dengan Excel itu murah (gratis), tapi mahal di "biaya tersembunyi" (stok mati, uang nyangkut).

Beralih ke sistem Inventory Management Digital (ERP) memang butuh investasi di awal. Tapi seperti simulasi di atas, jika sistem itu bisa "mencairkan" stok mati senilai Rp 400 Juta, maka investasi Rp 50-100 juta untuk software akan balik modal dalam hitungan bulan.

Baca Juga: Biaya Tersembunyi di Pabrik: Pengertian, 7 Contoh, dan Solusinya


Ingin Mencairkan "Uang Mati" di Gudang Anda?

Jangan biarkan modal kerja Anda menumpuk jadi debu di gudang. Mulai pantau perputaran stok secara real-time dan otomatis.

Ingin tahu berapa potensi penghematan pabrik Anda?

Coba Kalkulator ROI Inventory Leapfactor

Lihat bagaimana sistem kami membantu Anda mengelola stok lebih cerdas:

Jadwalkan Demo Inventory System

Artikel yang mungkin Anda suka

Whatsapp Us