Cara Menghitung OEE: Rumus Lengkap, Contoh Real & 4 Kesalahan Fatal
Banyak manajer pabrik merasa operasional berjalan baik karena mesin menyala 24 jam. Tapi ketika laporan akhir bulan keluar, target produksi seringkali tidak tercapai.
"Mesin jalan terus, tapi kenapa outputnya kurang?"
Pertanyaan yang lebih penting untuk Anda tanyakan adalah:
"OEE 65% vs 85% selisihnya berapa Rupiah?"
Jawabannya: Sekitar Rp 400 Juta per tahun (hanya dari 1 mesin).
Mesin yang menyala belum tentu produktif. Bisa jadi mesin berjalan lambat (slow cycle), sering berhenti sebentar (micro-stops), atau memproduksi barang cacat (reject).
Artikel ini akan memandu Anda memahami cara menghitung OEE step-by-step, membongkar 4 kesalahan fatal yang sering membuat perhitungan salah, serta roadmap realistis untuk meningkatkan OEE pabrik Anda.
Baca Juga: OEE Adalah: Rumus, Cara Menghitung & Meningkatkan Efisiensi Mesin 2025
Apa Itu OEE dan Mengapa Wajib Dihitung?
OEE (Overall Equipment Effectiveness) adalah standar global untuk mengukur produktivitas manufaktur. OEE menjawab satu pertanyaan krusial:
"Dari total waktu mesin tersedia, berapa persen yang benar-benar menghasilkan produk berkualitas?"
OEE menggabungkan 3 elemen vital:
- Availability (Ketersediaan): Seberapa sering mesin jalan vs berhenti?
- Performance (Performa): Seberapa cepat mesin jalan vs kecepatan idealnya?
- Quality (Kualitas): Berapa banyak produk bagus vs produk cacat?
Ingat, OEE bukan sekadar angka KPI untuk laporan. OEE adalah indikator langsung uang yang hilang.
Rumus Dasar OEE
Rumus OEE sangat sederhana:
OEE = Availability × Performance × Quality
Mari kita bedah satu per satu:
1. Availability (Ketersediaan Waktu)
Faktor ini turun jika ada Downtime (Kerusakan mesin, ganti mold, tunggu material).
- Rumus: (Waktu Operasi / Waktu Tersedia) × 100%
- Catatan: Waktu Tersedia = Total Jam Shift dikurangi Istirahat/Jadwal Libur.
2. Performance (Kecepatan Produksi)
Faktor ini turun jika mesin mengalami Speed Loss (jalan pelan) atau Micro-stops (berhenti 5-30 detik berkali-kali).
- Rumus: (Total Output / Target Output Ideal) × 100%
3. Quality (Kualitas Produk)
Faktor ini turun jika ada Reject atau Rework.
- Rumus: (Produk Bagus / Total Produk Diproses) × 100%
Step-by-Step: Contoh Perhitungan OEE Real
Agar lebih paham, mari kita hitung OEE sebuah mesin Injection Molding dalam satu shift kerja.
Data Lapangan:
- Total Shift: 8 Jam (480 menit)
- Istirahat & Meeting: 60 menit
- Downtime (Mesin Rusak + Ganti Mold): 40 menit
- Cycle Time Ideal: 6 detik/unit (atau 10 unit/menit)
- Total Output Aktual: 3.200 unit
- Barang Cacat (Reject): 100 unit
Langkah 1: Hitung Availability
- Waktu Tersedia: 480 - 60 = 420 menit
- Waktu Operasi: 420 - 40 = 380 menit
- Skor Availability: (380 / 420) × 100% = 90,4%
Langkah 2: Hitung Performance
- Target Ideal (dalam 380 menit): 380 × 10 unit = 3.800 unit
- Skor Performance: (3.200 / 3.800) × 100% = 84,2%
(Artinya: Mesin berjalan lebih lambat dari standar atau banyak micro-stops)
Langkah 3: Hitung Quality
- Produk Bagus: 3.200 - 100 = 3.100 unit
- Skor Quality: (3.100 / 3.200) × 100% = 96,8%
Langkah 4: Hitung OEE Final
OEE = 90,4% × 84,2% × 96,8% = 73,6%
Apa Artinya Angka Ini?
Dari 420 menit waktu tersedia, mesin ini hanya produktif secara efektif selama 309 menit. Ada 111 menit yang "hilang" (inefisiensi 26,4%).
Jika nilai produksi per menit adalah Rp 100.000, maka Anda kehilangan Rp 11,1 Juta per shift.
Baca Juga: Meningkatkan OEE Mesin Injection Plastik: Panduan Lengkap 2025
4 Kesalahan Fatal dalam Menghitung OEE
Berdasarkan observasi Leapfactor di 40+ pabrik, hindari 4 kesalahan ini agar data Anda valid:
1. Salah Definisi "Planned Production Time"
Jangan gunakan total 8 jam shift. Anda harus mengurangi waktu istirahat (break) yang terjadwal. Jika tidak, skor Availability Anda akan terlihat sangat buruk secara tidak adil.
2. Mengabaikan Micro-Stops
Banyak pabrik hanya mencatat downtime besar (>10 menit). Padahal, mesin berhenti 30 detik sebanyak 50 kali sehari itu setara dengan 25 menit hilang. Ini harus masuk ke perhitungan.
3. Menggunakan "Actual Output" sebagai Target
Rumus Performance harus menggunakan Target Teoritis (Ideal Cycle Time) mesin, bukan rata-rata historis. Jika pakai rata-rata historis, skor Performance Anda akan selalu 100%, yang artinya data sampah.
4. Menghitung Quality dari Total Produksi
Rumus yang benar adalah Produk Bagus / Total Produk. Jangan hanya menghitung Produk Bagus / (Total - Cacat).
Berapa Skor OEE yang Bagus? (Benchmark Industri)
Setelah Anda mendapatkan angka 73,6%, apakah itu bagus?
- 100% (Mustahil): Produksi tanpa henti, kecepatan maks, nol cacat.
- 85% (World Class): Target emas perusahaan global (Toyota, Unilever).
- 70% - 85% (Good): Kompetitif, tapi masih bisa ditingkatkan.
- 60% - 70% (Rata-rata): Kebanyakan pabrik ada di sini.
- < 60% (Poor): Kondisi kritis. Inefisiensi sangat parah.
Jika OEE Anda di bawah 60%, jangan panik. Itu artinya Anda punya peluang profit besar yang bisa diambil tanpa harus beli mesin baru.
Studi Kasus: Peningkatan Realistis dalam 6 Bulan
Jangan percaya jika ada yang menjanjikan kenaikan OEE 20% dalam sebulan. Itu tidak realistis. Berikut adalah contoh nyata dari klien manufaktur menengah (Plastik):
Kondisi Awal (Bulan 0):
- OEE Awal: 64% (Banyak micro-stops tidak terdeteksi manual).
- Masalah: Data downtime tidak akurat karena dicatat manual di kertas.
Tindakan (Bulan 1-6):
- Digitalisasi: Memasang sensor IoT Leapfactor untuk tracking otomatis.
- Maintenance: Jadwal PM mingguan diperketat.
- Optimasi: Mengurangi waktu ganti mold (setup time).
Hasil (Bulan 6):
- OEE Akhir: 78% (Naik +14 poin).
- Output Tambahan: Setara Rp 365 Juta per tahun.
- ROI Investasi Sistem: 1.043% (Balik modal dalam 1,2 bulan).
Peningkatan OEE butuh waktu dan data yang akurat, bukan sekadar "kerja lebih keras".
Baca Juga: Studi Kasus LeapFactor: Tekan HPP Material 8% di CV Arjuna Plastik
Manual vs Digital: Mana yang Anda Pilih?
Cara Manual (Excel & Kertas):
- Gratis.
- Data sering telat (baru tahu besok).
- Rentan manipulasi & human error.
- Micro-stops tidak pernah tercatat.
Cara Digital (Real-Time Monitoring):
- Data 100% akurat & objektif.
- Tahu kondisi mesin detik ini juga (Real-time).
- Otomatis mendeteksi micro-stops.
- Butuh investasi awal (namun ROI cepat).
Stop Menebak, Mulai Mengukur
Menghitung manual adalah langkah awal yang baik untuk memahami konsepnya. Namun, untuk akurasi jangka panjang dan improvement nyata, Anda membutuhkan data yang real-time.
Ingin tahu skor OEE pabrik Anda yang sebenarnya tanpa ribet input data?
Lihat bagaimana sistem Leapfactor menghitung OEE secara otomatis, mendeteksi micro-stops, dan memberikan laporan instan ke HP Anda.




